Kemenristek: Dari 7.000 Riset RI, Hanya 90 Dilirik Industri

Kemenristek: Dari 7.000 Riset RI, Hanya 90 Dilirik Industri

VIVA.co.id – Begitu banyak penelitian dan penemuan yang sudah dilakukan oleh ilmuwan Indonesia. Sayangnya penelitian itu sangat sedikit sekali mendapat lirikan dari pelaku industri di Tanah Air.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi, Jumain Appe, menyebutkan bahwa dari ribuan penelitian yang dilakukan oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), hanya sedikit yang dilirik oleh pelaku industri. Jumlahnya pun tak sampai 100.

“Yang nyata masuk industri baru sekitar 90. Jumlah penelitian ada 7.000 lebih, dibanding keseluruhan berapa persen,” ucap Jumain kepada VIVA.co.id saat ditemui di Gedung Badan pengkajian dan penerapan Teknologi, Selasa, 15 Desember 2015.

Jumain pun mengungkapkan, yang menjadi penyebab industri tidak tertarik adalah pengembangan penelitian yang dilakukan dan dianggap belum sesuai dengan keinginan para pelaku industri. Selain itu terkait masalah skala ekonomi yang belum dipertimbangkan matang oleh Kemenristekdikti.

“Begini, sebagian inovasi yang kita lakukan belum sesuai dengan kebutuhan industri. Yang kedua, kalau masih dalam tahap pengembangan, itu skala ekonominya belum kita lihat. Nah, industrinya itu kan melihat pada skala ekonominya, menguntungkan enggak, kalau saya menggunakan teknologi itu,” ujar Jumain.

Untuk itu, Jumain menyatakan, ditahun mendatang, atau 2016, Kemenristekdikti akan mencoba mempertanyakan kepada pelaku industri, apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan mereka. Mereka juga akan lebih giat melakukan pertemuan-pertemuan dengan pelaku industri serta dengan penandatanganan kerjasama antara pelaku industri, Kemenrstekdikti dan termasuk Perguruan Tinggi.

“Nah, oleh karena itu, diawal mestinya, saat kita melakukan riset dan inovasi, (tanyakan) apa yang diperlukan industri. Jadi begitu kita lakukan, industrinya tinggal melanjutkan sesuai kebutuhannya,” lanjut dia. (ren)

Sumber: Kemenristek: Dari 7.000 Riset RI, Hanya 90 Dilirik Industri